Salam ceria, sihat, kaya dan bergaya untuk semua. Semoga hari ini lebih indah dan bermakna dari hari semalam.
Ingatkah kita suatu ketika dulu ketika kita masih kecil, ketika kita mencuba untuk belajar berjalan. Saya percaya setiap dari kita pasti melalui fasa ini Cuma mungkin kita kurang mengingatinya.
Pertama-tamanya kita harus belajar untuk berdiri, yakni sebuah proses yang melibatkan seluruh tubuh, jatuh lalu berdiri kembali.
Dalam proses tersebut kita kadangkala tertawa serta tersenyum, tapi di waktu yang lain kita akan menangis dek kerana kesakitan akibat terjatuh dan sebagainya. Tanpa kita sedari, seperti ada tekad dan keyakinan dalam diri kita bahwa kita akan berhasil, munkin tiada siapa di antara kita yang menyedari bahawa kita mempunyai motivasi yang tinggi di saat itu, walau pun terpaksa mengharungi pelbagai rintangan di kala itu.
Setelah banyak berlatih akhirnya kita mengerti bagaimana untuk menyeimbangkan diri kita. Ianya suatu syarat atau platform ke fasa yang seterusnya.
Kita menikmatinya dan seolah-olah kita mempunyai kekuatan dan motivasi baru. Kita akan berdiri dimana pun kita suka, tidak kira di sofa, di pangkuan ibu atau bapa kita atau dipangkuan orang lain. Inilah waktu atau saat yang menggembirakan . Ketika kita mula berdiri dan kita mampu mengawal diri kita. Kita tersenyum dan tertawa , puas akan keberhasilan yang kita lakukan.
Langkah berikutnya adalah untuk berjalan. Kita melihat orang lain melakukannya, nampak mudah dan tidaklah terlalu sukar untuk kita melakukannya, hanya memindahkan kaki saat kita berdiri, betul kan ?
Sebenarnya tidaklah semudah itu kerana ia lebih kompleks daripada yang kita bayangkan. Kita perlu berurusan dengan rasa kecewa. Tapi kita perlu terus mencuba dan mencuba lagi sehingggalah kita tahu bagaimana untuk berjalan. Walaupun kita selalu ingin dan perlu kedua tangan kita dipegang atau dipimpin saat berjalan.
Jika orang melihat kita berjalan, mereka akan bertepuk tangan, mereka tertawa, mereka akan memberi semangat, “ wah anak mama dah boleh berjalan”. “Oh anakku sudah boleh berdiri”. “claver boy” dan lain-lain.
Dorongan ini memicu kita dan menambah rasa percaya diri kita seterusnya memotivasikan diri kita.
Lalu kita pun mencuba untuk berjalan di saat tiada siapa yang melihat kita, disaat tiada sorak sorai atau pujian. Kita akan menggunakan setiap peluang yang ada untuk berlatih berjalan, kerana kita tidak mampu menunggu seseorang untuk memotivasi dan memimpin tangan kita untuk mengambil langkah-langkah berikutnya. Sebenarnya kita sudah mula belajar bagaimana untuk memotivasikan diri sendiri
Andai kita mampu membayangkan hal-hal tersebut di saat ini , ingatlah bahwa kita boleh dan mampu melakukan apapun yang kita fikiran. Kita mampu mengatur jika kita mau dan bersedia melalui proses sama seperti itu, seperti ketika kita belajar berdiri, seperti ketika kita belajar berjalan. Kita tidak perlu menunggu orang lain untuk memotivasikan diri kita, sebaliknya kita perlu memotivasikan diri kita sendiri.
Jika kita sudah lupa bagaimana melakukan hal ini, atau merasa seperti beku, kaku dan ketandusan idea, Maka kita sebenarnya memerlukan motivasi. Renungkan kembali perjalanan singkat dalam hidup kita yang telah dan pernah kita selusuri. Lihatlah prestasi kita, tanpa mengambil kira samada pencapaian kecil atau besar , atau saat-saat dimana kita bertemu dengan cabaran dan dugaan dan dalam masa yang sama kita menemukan cara untuk berjaya.
Fokus pada semua hal yang kita fikir kita tidak mampu untuk melakukanya. Lihatlah anak-anak kita, mereka tidak pernah menyerah dan kenal erti putus asa. Mereka yakin serta percaya terhadap kita, mereka percaya di dalam semua kehidupan kita!
Sekarang kita semua harus percaya pada diri kita! Yakinkan pada hati kita bahwa kita pasti boleh melakukanya.
“Ingat, hari ini adalah hari terbaik dalam hidup kita, milikilah masa depan yang indah, dengan membuat perubahan hari ini!
Sebelum mengundurkan diri, saya tinggalkan anda semua dengan kata-kata ini “ Suatu hari nanti kita pasti berhenti berkerja dengan manusia tetapi tiada istilah berhenti berkerja dengan ALLAH melainkan perjuangan berakhir bersama nafas terakhir.
Salam Hormat
- Ima Harlina –